
Selama ini, banyak orang menganggap bahwa devaluasi mata uang Yuan China merupakan salah satu faktor penyebab turunnya atau bahkan runtuhnya perekonomian Asia, termasuk asia tenggara.
Disamping itu, naik turunnya saham-saham di China juga dianggap berpengaruh besar terhadap perekonomian regional, dan ini menunjukkan masalah perekonomian di dalam negeri Tirai bambu tersebut.
Namun, menurut pendiri Hayman Capital Management, Kyle Bass masalah yang paling menakutkan di China saat ini adalah kemungkinan bahwa perbankan di China akan mengalami kerugian dan akan mempengaruhi ekonomi negara tirai bambu secara keseluruhan.
"Mereka yang memperhatikan saham di China naik atau turun sebenarnya itu bukan masalahnya. Menurut pendapat saya, masalah sebenarnya adalah pinjaman dalam sektor perbankan," ucap Kyle seperti dilansir dari CNBC di Jakarta, Rabu (16/9).
Aset perbankan di China menurut Kyle naik sekitar 400 persen sejak 2007 silam. Dan kini, aset perbankan China mencapai USD 31 triliun sementara PDB China hanya sebesar USD 10 triliun.
Masih menurut Kyle, ketika perbankan melakukan ekspansi yang agresif dan cepat, maka akan semakin dekat dengan kerugian. Ini hal yang menakutkan dan ketika 10 persen aset perbankan di China hilang maka nilainya mencapai USD 3 triliun," katanya.
Kerugian tersebut sangat besar dan akan memaksa China untuk menggunakan cadangan devisa secara besar-besaran. Tidak hanya itu, pemerintah China juga diramalkan bakal menjual obligasi untuk rekapitalisasi.
Sehingga menurut Kyle, masalah ini akan juga mempengaruhi perbankan regional dan akhirnya mempengaruhi PDB global.