Panen raya kopi di Lampung tahun 2016 ini akan berlangsung sekitar bulan Juli – Agustus. Waktu panen raya tahun ini mundur dibandingkan tahun sebelumnya yang biasanya berlangsung sekitar bulan Mei – Juni. Hasil panen tahun ini diperkirakan meningkat sekitar 30% -40% dibandingkan panen tahun lalu.
Peningkatan hasil panen kopi ini menurut sebagian petani lebih didukung faktor cuaca, dimana pada periode musim ini, curah hujan tidak terlalu tinggi, sehingga bunga kopi yang rontok pun lebih sedikit.
Rizal, salah seorang petani di desa Gombeb kecamatan Sekincau Lampung Barat mengatakan, jikalau pada tahun lalu perhektar lahan kopi mampu memproduksi 1 ton hingga 1,5 ton, tahun ini diperkirakan akan meningkat menjadi 1,3 ton hingga 2 ton per hektar.
Sayangnya hasil panen yang meningkat tidak dibarengi dengan peningkatan harga kopi. Menurut Ilham, pengepul kopi di daerah Way Tenong Lampung barat, harga kopi tahun ini cenderung menurun dibandingkan harga tahun lalu. Jikalau tahun lalu harga kopi di kisaran Rp. 20.000,- an, pada tahun ini harga kopi di tingkat petani berkisar Rp. 18.500,- sampai Rp. 19.500,-. Penurunan harga ini dikarenakan harga Basis ditingkat eksportir kopi juga menurun.
Sementara itu data dari Dinas Perdagangan Provinsi Lampung menunjukkan volume ekspor biji kopi robusta Lampung pada Maret 2016 mencapai 13.082,72 ton atau senilai USD22,42 juta, naik cukup signifikan jika dibandingkan Februari 2016 yang hanya 9.896 ton dengan nilai USD16,25 juta, atau dibandingkan bulan Januari 2016 dimana ekpor biji kopi Lampung senilai 14 juta dolar dengan volume 8.418 ton.
Perlu diketahui bahwa Lampung merupakan pemasok kopi robusta terbesar di Tanah Air dengan produksi rata-rata 100.000 ton per tahun dengan luas areal kopi mencapai 173.670 hektar dengan sentra produksi terbesar di Kabupaten Lampung Barat 65.010 hektare, diikuti Tanggamus 43.897 hektare, dan 22.594 hektare lainnya tersebar di Kabupaten Waykanan, Lampung Utara, Pringsewu, dan Pesawaran